Kamis, 29 Januari 2009

Apakah Engkau Mengantuk, Moggallana?

Sang Bhagava berkata kepada Yang Ariya Maha Moggallana, “Apakah engkau mengantuk, Moggallana? Apakah engkau mengantuk?”

“Ya, bhante.”

“Kalau demikian, kapan saja kemalasan dan kantuk menimpamu, jangan perhatikan hal itu, jangan menurutinya. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.

Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus berpikir dan mengingat Dhamma, ulangilah dalam ingatanmu seperti yang telah kau dengar dan pelajari. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.

Tetapi jika dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada, engkau harus mengucapkan kembali Dhamma yang telah kau dengar dan pelajari secara mendetail. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.

Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus menarik telingamu dan menggosok-gosokkan telapak tangan pada lengan dan kakimu. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.

Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; bangkitlah dari tempat dudukmu dan basuhlah mukamu dengan baik, lihatlah ke sekelilingmu, dan tataplah langit yang berbintang. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.

Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus bersungguh-sungguh membayangkan seberkas sinar tanpa henti. Kemudian, dengan pikiran yang jernih dna tak terhalang, engkau harus mengembangkan kesadaran yang jelas. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.

Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap juga ada; sadarilah apa yang ada di hadapan dan di belakangmu. Berjalanlah bolak-balik dengan pikiran memperhatikan setiap gerak langkah, dan jangan biarkan pikiranmu menyimpang. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.

Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap juga ada; baringkanlah tubuhmu miring ke kanan seperti posisi seekor singa, dengan tangan kanan menopang kepala dan kaki kiri di atas kaki kanan, dengan penuh perhatian dan kesadaran, serta dengan pikiran terpusatkan. Sesudah bangkit, engkau harus berdiri tegak dan berpikir, “Aku tidak akan menurutkan kenikmatan berbaring, merebahkan diri, dan tidur (untuk tujuan bermalas-malasan)”

Latihlah dirimu dengan cara seperti ini”

Anggutara Nikaya IV, 85
Buddha Vacana, Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha
Y.A. Shravasti Dhammika, Karaniya Jakarta, 1993

Tidak ada komentar:

Posting Komentar