Banyak umat Buddha yang mengetahui bahwa meditasi sangat bermanfaat dalam kehidupan ini. Namun banyak orang yang enggan berlatih meditasi. Salah satu alasan karena merasa tidak nyaman ketika duduk bermeditasi. Ada rasa sakit yang muncul pada kaki seperti kesemutan, pegal, ngilu, dan sebagainya.
Kepada para pemula, saya sering menyampaikan bahwa langkah awal dari pelatihan meditasi adalah “meditasi dengkul”. Banyak orang yang merasa tersinggung dengan pernyataan ini. Barangkali Anda salah satunya. Namun sejujurnya saya sampaikan, inilah kenyataan yang sebenarnya. Jadi, maaf, bila Anda merasa tersinggung.
Beberapa tahun silam, dalam sebuah pelatihan meditasi yang saya ikuti; peserta diharuskan duduk selama satu jam hingga satu setengah jam. Sebuah perjuangan yang sangat berat bagi pemula. Dalam jangka waktu tersebut; entah berapa orang yang telah memindahkan kaki, baik perlahan-lahan maupun secara tiba-tiba. Saya sering mendengar suara kaki digeser.
Seorang kawan yang mengikuti sebuah latihan meditasi selama sepuluh hari pada bulan Desember lalu, menceriterakan kisah yang serupa. Dia sendiri bertahan karena telah pernah mengikuti sejumlah pelatihan meditasi dan sering berlatih di rumah.
Akhirnya, urusan kaki menjadi urusan sudah terbiasa duduk atau tidak. Jika Anda tidak pernah duduk bersila, Anda pasti akan merasa tidak nyaman. Kaki yang dilipat dan duduk dalam jangka waktu yang agak lama akan menimbulkan rasa sakit. Dan ketika rasa sakit muncul pada kaki—atau pada bagian badan lainnya—pikiran tidak bisa terkonsentrasi lagi. Pikiran akan kacau. Anda lebih mudah memikirkan rasa tidak nyaman yang muncul daripada mengarahkan pikiran pada obyek meditasi.
Jelas, bahwa langkah awal dari semuanya adalah membuat badan ini merasa tenang. Kaki dibuat sedemikian rupa agar tidak sakit, tidak kesemutan, atau tidak menimbulkan rasa tidak menyenangkan lainnya. Kita perlu latihan dengkul agar bisa duduk dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa terganggu dengan rasa sakit yang muncul.
Saya sering menyarankan peserta pemula untuk mencoba duduk bersila dalam melakukan aktivitas tertentu. Cobalah untuk duduk bersila di lantai ketika menonton televisi, membaca, atau ketika bermain dengan anak-anak. Ngobrol dengan tetangga di teras rumah atau pos kamling akan lebih asyik sambil duduk bersila. Bersila juga bisa dilakukan di beberapa rumah makan ala Sunda. Dalam kondisi apa pun, bila memungkinkan, tidak ada salahnya untuk duduk bersila.
Kebiasaan ini akan membuat Anda memiliki daya tahan ketika harus duduk bermeditasi. Anda bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu. Dengan latihan yang tekun, perlahan namun pasti, gangguan tersebut pasti akan teratasi.
Anda juga bisa berlatih meditasi dalam jangka waktu tertentu dan ditingkatkan sedikit demi sedikit. Cobalah untuk duduk limabelas menit pada hari ini. Hari demi hari ditingkatkan jangka waktunya hingga dalam jangka waktu satu minggu, Anda bisa duduk tigapuluh menit tanpa memindahkan kaki atau berhenti bermeditasi Cobalah terus berlatih selama tiga puluh menit untuk setiap kali duduk jangka waktu beberapa minggu.
Dalam langkah awal, yang dibutuhkan hanyalah kesabaran dan ketekunan berlatih. Jangan pernah menyerah. Sampai sekarang saya belum pernah mendengar ada orang yang duduk bermeditasi dalam jangka waktu lama hingga menjadi lumpuh.
Kalau Anda mau mencoba, tekun, dan sabar dalam berlatih; Anda pasti bisa.
Selamat mencoba.
Rabu, 11 Februari 2009
Selasa, 03 Februari 2009
Tiga Jenis Manusia
Ada tiga jenis manusia di dunia ini.
Siapakah mereka?
Mereka adalah orang yang suka memahat pada sebongkah karang, orang yang suka menggores di atas tanah, dan orang yang suka menulis di permukaan air.
Seperti apakah orang yang suka memahat pada sebongkah karang?
Bayangkanlah seseorang yang suka marah dan kemarahannya bertahan lama, seperti pahatan pada karang yang tidak cepat terhapus oleh agin, air, atau waktu.
Seperti apakah orang yang suka menggores di atas tanah?
Bayangkanlah seseorang yang suka marah tetapi kemarahannya segera lenyap, seperti goresan di atas tanah yang segera terhapus oleh angin, air, atau waktu.
Seperti apakah orang yang suka menulis di permukaan air?
Bayangkanlah seseorang yang walaupun dicaci, dicerca, dan dimaki; dengan mudah dapat berdamai dan menjadi ramah serta bersahabat, seperti tulisan di atas air yang segera lenyap.
Anggutara Nikaya I, 283.
Buddha Vacana, Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha
Y.A. Shravasti Dhammika, Karaniya Jakarta, 1993
Kamis, 29 Januari 2009
Apakah Engkau Mengantuk, Moggallana?
Sang Bhagava berkata kepada Yang Ariya Maha Moggallana, “Apakah engkau mengantuk, Moggallana? Apakah engkau mengantuk?”
“Ya, bhante.”
“Kalau demikian, kapan saja kemalasan dan kantuk menimpamu, jangan perhatikan hal itu, jangan menurutinya. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus berpikir dan mengingat Dhamma, ulangilah dalam ingatanmu seperti yang telah kau dengar dan pelajari. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada, engkau harus mengucapkan kembali Dhamma yang telah kau dengar dan pelajari secara mendetail. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus menarik telingamu dan menggosok-gosokkan telapak tangan pada lengan dan kakimu. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; bangkitlah dari tempat dudukmu dan basuhlah mukamu dengan baik, lihatlah ke sekelilingmu, dan tataplah langit yang berbintang. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus bersungguh-sungguh membayangkan seberkas sinar tanpa henti. Kemudian, dengan pikiran yang jernih dna tak terhalang, engkau harus mengembangkan kesadaran yang jelas. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap juga ada; sadarilah apa yang ada di hadapan dan di belakangmu. Berjalanlah bolak-balik dengan pikiran memperhatikan setiap gerak langkah, dan jangan biarkan pikiranmu menyimpang. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap juga ada; baringkanlah tubuhmu miring ke kanan seperti posisi seekor singa, dengan tangan kanan menopang kepala dan kaki kiri di atas kaki kanan, dengan penuh perhatian dan kesadaran, serta dengan pikiran terpusatkan. Sesudah bangkit, engkau harus berdiri tegak dan berpikir, “Aku tidak akan menurutkan kenikmatan berbaring, merebahkan diri, dan tidur (untuk tujuan bermalas-malasan)”
Latihlah dirimu dengan cara seperti ini”
Anggutara Nikaya IV, 85
Buddha Vacana, Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha
Y.A. Shravasti Dhammika, Karaniya Jakarta, 1993
“Ya, bhante.”
“Kalau demikian, kapan saja kemalasan dan kantuk menimpamu, jangan perhatikan hal itu, jangan menurutinya. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus berpikir dan mengingat Dhamma, ulangilah dalam ingatanmu seperti yang telah kau dengar dan pelajari. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada, engkau harus mengucapkan kembali Dhamma yang telah kau dengar dan pelajari secara mendetail. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus menarik telingamu dan menggosok-gosokkan telapak tangan pada lengan dan kakimu. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; bangkitlah dari tempat dudukmu dan basuhlah mukamu dengan baik, lihatlah ke sekelilingmu, dan tataplah langit yang berbintang. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap ada; engkau harus bersungguh-sungguh membayangkan seberkas sinar tanpa henti. Kemudian, dengan pikiran yang jernih dna tak terhalang, engkau harus mengembangkan kesadaran yang jelas. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap juga ada; sadarilah apa yang ada di hadapan dan di belakangmu. Berjalanlah bolak-balik dengan pikiran memperhatikan setiap gerak langkah, dan jangan biarkan pikiranmu menyimpang. Dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk akan lenyap.
Tetapi jika, dengan melakukan hal ini, kemalasan dan kantuk tersebut tetap juga ada; baringkanlah tubuhmu miring ke kanan seperti posisi seekor singa, dengan tangan kanan menopang kepala dan kaki kiri di atas kaki kanan, dengan penuh perhatian dan kesadaran, serta dengan pikiran terpusatkan. Sesudah bangkit, engkau harus berdiri tegak dan berpikir, “Aku tidak akan menurutkan kenikmatan berbaring, merebahkan diri, dan tidur (untuk tujuan bermalas-malasan)”
Latihlah dirimu dengan cara seperti ini”
Anggutara Nikaya IV, 85
Buddha Vacana, Renungan Harian dari Kitab Suci Agama Buddha
Y.A. Shravasti Dhammika, Karaniya Jakarta, 1993
Selasa, 27 Januari 2009
Shopping Meditasi
Apakah Anda sudah mengenal meditasi? Apakah Anda sudah berlatih meditasi secara rutin?
Sebagian besar umat Buddha yang telah mengenal Dhamma, tentu telah mengetahui bahwa meditasi adalah salah satu latihan yang perlu dikembangkan dalam kehidupan ini. Banyak umat Buddha yang telah mengetahui dan memiliki pengetahuan yang luas tentang meditasi. Terlebih di zaman modern ini, ketika dunia semakin datar, pengetahuan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber.
Yang sangat disayangkan adalah terbatasnya jumlah umat Buddha yang berlatih meditasi setiap hari, tekun dan selalu bersemangat dalam berlatih. Jarang umat Buddha yang memiliki hobi bermeditasi.
Dalam sebuah diskusi terbatas dengan seorang bhikkhu senior, telah melewati 20 vassa, diberikan perumpamaan membeli pakaian. Pertama, kita harus mencari pakaian tersebut di toko pakaian, factory outlet, pusat perbelanjaan, departemen store, atau tempat-tempat lainnya. Di tempat tersebut kita bisa memilih berbagai jenis pakaian. Kita bisa mencobanya. Kalau tidak cocok, kita tidak perlu membelinya. Hingga akhirnya, kita bertemu dengan pakaian yang cocok, membeli pakaian tersebut, dan memakainya.
Proses tersebut juga berlangsung dalam bermeditasi. Pertama, shopping meditasi. Demikian banyak teknik meditasi yang sudah ada. Setiap teknik mempunyai tujuan tertentu. Setiap guru mempunyai cara dan keunggullan tertentu. Tidak ada salahnya jika Anda mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi A atau organisasi B. Tidak ada salahnya jika belajar dengan guru X atau guru Y. Seperti keluar masuk toko pakaian atau pusat perbelanjaan; tidak ada yang salah.
Dari sekian lama berkelana, shopping meditasi, saatnya Aada untuk menentukan pilihan. Pakaian mana yang rasanya cocok dengan diri Anda. Teknik mana yang kira-kira berkenan di hati, terasa cocok, mudah dilakukan, atau memberikan manfaat sesuai dengan harapan Anda. Tentukan pilihan.
Pakaian yang telah dibeli, harus dipergunakan; tidak menjadi pajangan atau hanya memenuhi lemari pakaian Anda. Meditasi yang sudah dipilih, harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari; tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan Anda. Pengetahuan tentang meditasi memang perlu namun tidak memberikan banyak manfaat kalau tidak disertai dengan latihan.
Jika hari ini Anda masih shopping, tidak ada yang salah. Kalau sudah bertemu teknik yang sesuai, jangan lupa untuk berlatih, berlatih, dan berlatih.
Selamat memilih.
Selamat berlatih.
Sebagian besar umat Buddha yang telah mengenal Dhamma, tentu telah mengetahui bahwa meditasi adalah salah satu latihan yang perlu dikembangkan dalam kehidupan ini. Banyak umat Buddha yang telah mengetahui dan memiliki pengetahuan yang luas tentang meditasi. Terlebih di zaman modern ini, ketika dunia semakin datar, pengetahuan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber.
Yang sangat disayangkan adalah terbatasnya jumlah umat Buddha yang berlatih meditasi setiap hari, tekun dan selalu bersemangat dalam berlatih. Jarang umat Buddha yang memiliki hobi bermeditasi.
Dalam sebuah diskusi terbatas dengan seorang bhikkhu senior, telah melewati 20 vassa, diberikan perumpamaan membeli pakaian. Pertama, kita harus mencari pakaian tersebut di toko pakaian, factory outlet, pusat perbelanjaan, departemen store, atau tempat-tempat lainnya. Di tempat tersebut kita bisa memilih berbagai jenis pakaian. Kita bisa mencobanya. Kalau tidak cocok, kita tidak perlu membelinya. Hingga akhirnya, kita bertemu dengan pakaian yang cocok, membeli pakaian tersebut, dan memakainya.
Proses tersebut juga berlangsung dalam bermeditasi. Pertama, shopping meditasi. Demikian banyak teknik meditasi yang sudah ada. Setiap teknik mempunyai tujuan tertentu. Setiap guru mempunyai cara dan keunggullan tertentu. Tidak ada salahnya jika Anda mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi A atau organisasi B. Tidak ada salahnya jika belajar dengan guru X atau guru Y. Seperti keluar masuk toko pakaian atau pusat perbelanjaan; tidak ada yang salah.
Dari sekian lama berkelana, shopping meditasi, saatnya Aada untuk menentukan pilihan. Pakaian mana yang rasanya cocok dengan diri Anda. Teknik mana yang kira-kira berkenan di hati, terasa cocok, mudah dilakukan, atau memberikan manfaat sesuai dengan harapan Anda. Tentukan pilihan.
Pakaian yang telah dibeli, harus dipergunakan; tidak menjadi pajangan atau hanya memenuhi lemari pakaian Anda. Meditasi yang sudah dipilih, harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari; tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan Anda. Pengetahuan tentang meditasi memang perlu namun tidak memberikan banyak manfaat kalau tidak disertai dengan latihan.
Jika hari ini Anda masih shopping, tidak ada yang salah. Kalau sudah bertemu teknik yang sesuai, jangan lupa untuk berlatih, berlatih, dan berlatih.
Selamat memilih.
Selamat berlatih.
Senin, 19 Januari 2009
Sulit untuk Berbuat Baik (I)
Beberapa tahun silam, menjelang hari ulang tahun, saya berusaha mengumpulkan uang logam pecahan limaratur rupiah. Ketika hari ulang tahun tiba, saya ingin berbuat baik; memberikan sekeping uang logam kepada setiap pengemis atau pengamen yang minta uang di jendela kanan mobil, di samping pengemudi.
Ketika hari ulang tahun tiba, sebungkus uang logam sudah tersedia. Perjalanan dimulai, dari rumah di kawasan Tangerang menuju Jakarta. Di Jakarta, saya lebih banyak melewati jalan arteri, jalan non-tol. Dengan demikian saya harus bertemu dengan sejumlah lampu lalu lintas. Semakin banyak lampu lalu lintas yang dilewati, semakin besar peluang untuk berbuat baik.
Hampir seharian saya berputar, dari satu kawasan ke kawasan yang lain, dari satu daerah ke daerah yang lain. Ketika senja turun, saya belum merasa puas. Jalanan merayap memberikan peluang yang lebih besar. Dan ketika malam tiba, saya kembali ke rumah. Hari itu saya telah berniat untuk berbuat baik, walaupun kecil. Niat tersebut terbatas pada niat karena tidak satu keping pun uang logam yang berpindah tangan. NOL Besar.
Ketika tiba di sebuah persimpangan, lampu lalu lintas berwarna hijau. Saya harus menjalankan kendaraan. Atau pengemis tersebut tidak meminta ke sisi mobil saya; dia berhenti karena capai atau pindah pada barisan yang lain. Prinsipnya, ada salah yang dilakukan oleh pengemis dan pengamen di setiap persimpangan yang saya jumpai sehingga dia tidak mendekati pintu mobil saya.
Pengalaman ini memberikan pelajaran bagi saya; sulit untuk berbuat baik dalam kehidupan ini, walaupun perbuatan baik tersebut kelihatannya kecil. Kini saya selalu menyediakan uang logam dan memberikan kepada pengemis, anak jalanan, dan pengamen yang meminta.
Sekali waktu, tidak ada salahnya jika Anda mencoba untuk melakukan. Berapa keping uang logam yang berpindah tangan?
Mudah-mudahan Anda mempunyai kesempatan yang lebih banyak dalam berbuat baik.
Ketika hari ulang tahun tiba, sebungkus uang logam sudah tersedia. Perjalanan dimulai, dari rumah di kawasan Tangerang menuju Jakarta. Di Jakarta, saya lebih banyak melewati jalan arteri, jalan non-tol. Dengan demikian saya harus bertemu dengan sejumlah lampu lalu lintas. Semakin banyak lampu lalu lintas yang dilewati, semakin besar peluang untuk berbuat baik.
Hampir seharian saya berputar, dari satu kawasan ke kawasan yang lain, dari satu daerah ke daerah yang lain. Ketika senja turun, saya belum merasa puas. Jalanan merayap memberikan peluang yang lebih besar. Dan ketika malam tiba, saya kembali ke rumah. Hari itu saya telah berniat untuk berbuat baik, walaupun kecil. Niat tersebut terbatas pada niat karena tidak satu keping pun uang logam yang berpindah tangan. NOL Besar.
Ketika tiba di sebuah persimpangan, lampu lalu lintas berwarna hijau. Saya harus menjalankan kendaraan. Atau pengemis tersebut tidak meminta ke sisi mobil saya; dia berhenti karena capai atau pindah pada barisan yang lain. Prinsipnya, ada salah yang dilakukan oleh pengemis dan pengamen di setiap persimpangan yang saya jumpai sehingga dia tidak mendekati pintu mobil saya.
Pengalaman ini memberikan pelajaran bagi saya; sulit untuk berbuat baik dalam kehidupan ini, walaupun perbuatan baik tersebut kelihatannya kecil. Kini saya selalu menyediakan uang logam dan memberikan kepada pengemis, anak jalanan, dan pengamen yang meminta.
Sekali waktu, tidak ada salahnya jika Anda mencoba untuk melakukan. Berapa keping uang logam yang berpindah tangan?
Mudah-mudahan Anda mempunyai kesempatan yang lebih banyak dalam berbuat baik.
Langganan:
Komentar (Atom)
